[150422] Jalan-jalan : Dari Alun-alun Malang ke Batu

Semester ini begitu padat dengan antrian tugas. dan akhir-akhir ini banyak sekali tugas yang mengharuskan aku dan teman-teman untuk mewawancarai orang-orang. apalah daya, aku yang cuma punya sepeda di sini, terpaksa menyewa sepeda motor karena lokasi yang akan didatangi cukup jauh untuk ditempuh dengan sepeda. sebenarnya sih bisa, hanya saja demi menghemat waktu dan tenaga (wuih alibinya canggih, rek) jadilah begitu, solusi satu-satunya, selain angkot :v

hari ini, aku dan temanku, pergi untuk melakukan wawancara :v tugasnya penelitian tentang rumah khas kota yang sedang kutempati ini. awalnya sempat merasa deg-degan dan takut ditolak (baca: pakai acara dimarahi), bahkan itu mengakibatkan kami mundur 1 seminggu untuk meyakinkan diri, ternyata jauh dari dugaan, kami diterima dengan baik. gitu deh, jangan sering berprasangka buruk duluan, jadinya susah majunya.

kamipun berhasil mewawancarai pemilik rumah antik itu, anaknya sih, tepatnya. rumahnya itu terletak di dekat alun-alun kota. sebuah pemandangan kuno (walaupun habis direnovasi sedikit sih) tapi memang kesan antiknya masih terasa. jepret sana, jepret sini, karena tak enak merepotkan anak pemilik rumah dan meninggalkan jejak di mana-mana di rumah itu, akhirnya kami pamit.

“ke mana lagi nih?” tanya temanku. waktu sewa motor kami masih cukup panjang. akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar sambil makan siang di warung dekat tempat kos, kami memutuskan pergi ke kota sebelah, kota Batu. sudah sering sih aku ke sana. dengan dibonceng tentu saja. tapi kali ini, tujuannya adalah taman bacaan dengan bahan kontainer barang sebagai unsur penyusunnya. keren sih. tapi apalah daya, saat sampai di sana, kejadian itu terjadi.

“Mbak, jaketnya tolong dilepas, ya” tegur si Mbak penjaga.

“tapi saya pakai lengan pendek,” sahutku, tahulah bagi yang pakai jilbab.

“wah kalau begitu, Mbak tidak boleh masuk, silahkan di balkon saja,” jawab si Mbak, santai.

aku melongo. wew. yang benar aja, coba. Mbak, saya dari jauh lho. kota sebelah yang mungkin hanya beberapa kilometer yang bisa ditempuh beberapa menit, tapi kan, tapi kan.. tetap aja Mbak bisa giniin aku. ea. mulai kambuh.

aku sih kelihatan oke-oke saja. tapi dalam hati, agak jengkel juga sih. yah walau begitu, peraturan tetaplah peraturan. aku akan mempermudah tugas Mbaknya dengan tidak mencoba menerobos masuk ke dalam ruang baca. toh, komiknya bukan seleraku juga. haha. kalau Emak gue, pasti sudah dibilangin gini nih.

“Eh, siapa juga yang mau nyuri buku tolol itu, ha,” yah mungkin Emak gak bakal ngomong ‘tolol’. itu hanya aku yang mengimajinasikannya. tapi intinya, begitulah. dilarang pakai jaket, iya sih, kayak kita mau mencuri saja. tapi yah namanya peraturan, ya kan. jadi aku sama sekali tidak tersinggung. bener deh.

pemandangan di balkon dan angin sepoi-sepoi cukup menghiburku. taman bacaan itu cukup bagus, sayang aja sih belum sepenuhnya selesai dibangun. dan ketika akan mengambil motor di parkiran, ditanya oleh satpam taman bacaan tersebut. katanya,

“lho, Mbak kok (pulangnya) cepat?”

aku bingung mau jawab apa, sebenarnya sih mau bilang, “soalnya saya gak dibolehin masuk, karena jaket saya,” haha. tapi jangan ah, nanti ditertawakan.

perjalanan berlanjut, selingi mampir sebentar di pinggir jalan, soalnya viewnya bagus sekali, pemandangan kota Batu dari atas, akhirnya, foto-foto alay dulu, lalu temanku ingin pergi ke Paralayang. sebuah tempat tinggi tempat landasan paralayang. tapi mengingat seorang teman berkata kalau jalan menuju ke sana begitu terjal, akhirnya niat itupun batal dan kamipun ke alun-alun kota Batu yang kabarnya merupakan alun-alun terbaik se-Asia (kata teman seperjalananku hari ini).

tapi memang bagus sih, apalagi setelah masuk. ruang luarnya menyenangkan. ditambah dengan bianglala. dengan harga terjangkau, kami bisa menikmati kota Batu dan sekitarnya beberapa menit dari ketinggian.

sebenarnya aku takut ketinggian. tapi kalau penahannya kelihatan kuat, rasa takutnya hilang :v jadilah aku tidak takut saat naik bianglala ini.

puas keliling dan foto-foto di alun-alun kota Batu, kami pulang. tapi mampir minum susu sapi murni (dicampur gula sih, masih bisa disebut murni tidak?) di sebuah warung. sebenarnya aku mau rasa cokelat, tapi uang tak cukup. yowislah, rasa original juga tak masalah. setelah dirasa-rasa, enak juga :v

hehe, begitulah 😛

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s