[140428] Dukungan

hari ini, kelas kami yang sedang menjalani TA mengadakan review.
pagi-pagi buta, gue bangun buat nge-print laporan gue yang bakal ditunjukin ke dosen pembimbing (padahal jam 7, dibilang pagi buta)
mungkin sudah takdir, sepagi apapun gue bangun, ujung-ujungnya telat. telat, baju keteteran, sampai-sampai bongkar baju selemari, dengan keringat dingin mengucur, demi mencari baju yang akan jadi kostum wajib hari ini. LOL dan gue sempat marah sama emak gue yang sering main cuci aja baju gue digantungan. padahal kan baru 3 hari dipakai :v
yasudahlah, kalau memang harus gak dapat nilai di review kali ini jika memang bener-bener telat datang setelah nama gue dipanggil sama dosen-dosen itu.
fiuh, betapa leganya, ternyata gue gak telat. tapi keberuntungan itu gak terjadi pada temanku yang satu itu. dia datang 15 menit setelah namanya dilewatkan oleh dosen. akhirnya, dosen-dosen itu bersikeras tidak mau memberi kesempatan pada temanku itu untuk melakukan review dan mendapat nilai progres.
gue kasihan melihatnya. dia menangis. dan menyembunyikan tangisnya sambil berpura-pura mengetik sesuatu di ponselnya. gue heran, kenapa air matanya tidak mengalir, padahal, gue lihat airmatanya menggenang cukup banyak (salah fokus -_-)
awalnya gue gak menyadari dia menangis, kemudian gue lihat matanya. ya ampun, bahkan teman yang selalu bersikap dewasa seperti dia pun menangis karena ini. apa yang terjadi bila gue yang ada di posisinya? apa aku juga akan menangis? atau akan marah-marah? LOL gue emang punya kebiasaan buruk, kalau lagi sedih, bete atau gak enak hati, gue sering ngedamprat orang. gak heran sih, emak gue sering kayak gituin gue juga (salah fokus lagi :I)
gue yang saat itu satu-satunya yang ada di sebelahnya, kebingungan harus bagaimana. haruskah gue menghiburnya dengan kata-kata klise, seperti “sabar ya” atau “udah,udah” dengan bonus tepukan di bahu.
jujur saja, kalau itu gue, gue gak akan merasa senang dengan kata-kata itu. hm, padahal memang seharusnya kita bersyukur, jika saat itu masih ada yang mau menghiburmu, walau hanya dengan kata klise. mungkin pula niatnya menghibur dengan kata-kata lain, tapi kebingungan dan yang terpikir hanya kata-kata klise yang mudah diingat dan diucapkan itu.
tapi ada juga, orang yang menghibur disaat sedih, dan mengucapkan kalimat klise, dengan improvisasi yang baik, terdengar seperti mengejek. itu menurut pengalaman pribadiku. makanya, kadang gue jadi marah, bukannya tenang.
kenapa marah? karena, saking kalut dan frustasinya jiwa saat itu, timbul pikiran “lu gak ngerasain sih ada di posisi gue, coba lu ada di posisi gue, apa masih bisa lu tenang dan berkata-kata kayak sekarang?” yah, mungkin gak semua orang seperti itu.
karena gue pernah ada di posisi itu, jadi gue memilih diam dan menunggu teman gue itu yang berbicara duluan. ketika itu, akhirnya gue terlepas mengucapkan kalimat-kalimat hiburan yang mungkin bisa menyenangkan hatinya, walaupun gue pikir itu mungkin gak benar.
akhirnya dia mengatakan ingin pulang, gue mengerti dan gue berkata “hati-hati, ya”
kemudian dia membalas “terus, kalo hati-hati, semua akan baik-baik aja?” sambil berlari pergi tanpa pamit, tidak seperti kebiasaannya selama ini.
maafkan gue, karena tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. bahkan untuk merangkai kata untuk bisa menenangkan hatimu pun, gue gak bisa. gue hanya bisa berdoa untukmu, semoga nantinya, diakhir nanti, kita bisa tersenyum bersama-sama dan menjadi sebuah potret di bingkai kelulusan kita nanti.
kuatkan dirimu, ya, C.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s