[131006] Tetapi

“ini kembaliannya ya, Rp.20.500,” kata si Abang penjaga warung sembako.
Gadis itu melihat kembali uang logam yang terjepit di antara jempol dan uang kertas 20ribuan, “Berapa tadi, Bang?” berusaha memastikan pendengarannya tidak salah.
“Rp.20.500, neng,” ulangnya.
“Ini uang logam Rp.200, Bang,” si Abang menepuk jidatnya dengan gaya kocak.
Gadis itu protes dengan baik-baik. si Abang itu pun menerima protes gadis itu dengan baik-baik (mungkin) pula.
Tetapi, yang tidak baik adalah ibu-ibu yang ada di belakang gadis itu, yang menyaksikan acara jual beli itu, tidak baik.
lagi-lagi naluri dan hati gadis itu yang mendengar. menduga, atau lebih tepatnya menuduh.
seakan bisa menembus hati ibu-ibu itu, gadis itu menuduh mereka.
“Ya ampun, uang Rp. 300 aja kok, pelit amat ya jadi orang,”
Mereka sama sekali tidak mengatakan apa-apa. bahkan gadis itu tidak melihat wajah mereka. tapi entah kenapa, terlintas prasangka buruk itu. pikiran gadis itu mungkin agak berlebihan.
tetapi, sepertinya, gadis itu pernah benar-benar mendengar seseorang berkata begitu.
tidak ada yang salah. apa yang salah dari membenarkan kekeliruan seorang penjual? lagipula, uang itu milik si pembeli. wajar saja jika meminta kembalian dengan jumlah yang benar. tapi kadang-kadang, ada saja orang yang berpikir atau mengatakan hal seperti itu. meremehkan nilai uang yang kecil. Benar, tetapi sering kali dipersalahkan orang lain. pikiran gadis itu dipenuhi hal-hal semacam itu. cukup mengerikan bukan, berada di dekat seseorang yang selalu memiliki prasangka buruk?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s